Senin, 03 Desember 2007

Bab IV
Kepribadian

A. Definisi Kepribadian

Kelakuan antara seorang individu Homo Sapiens dengan individu Homo Sapiens lainnya, secara umum mungkin memiliki beberapa persamaan di samping perbedaan di sisi lainnya dan hal ini membentuk suatu pola kelakuan (patterns of action). Apabila seorang ahli antropologi, sosiologi, atau psikologi berbicara mengenai "pola kelakuan manusia," maka yang artinya adalah : Kelakuan dalam arti yang sangat khusus, yaitu kelakuan organisma manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan, refleksi, akalnya dan jiwanya). Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah- laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itulah yang disebut "kepribadian" atau personality.
Definisi mengenai kepribadian tersebut sangat kasar sifatnya, dan tidak banyak berbeda dengan arti yang diberikan kepada konsep itu dalam bahasa sehari-hari. Dalam bahasa populer, istilah "kepribadian" juga berarti ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus.
Masyarakat dan kebudayaan sebenarnya merupakan perwujudan sebenarnya merupakan perwujudan atau abstraksi perilaku manusia. Kepribadian mewujudkan perilaku manusia. Perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadiannya, karena kepribadian merupakan latar belakang perilaku yang ada dalam diri seoran indivudu. Kekuatan kepribadian bukanlah terletak pada jawaban atau tanggapan manusia terhadap suatu keadaan, akan tetapi justru pada kesiapannya di dalam memberikan jawab dan tanggapan.
Jawaban dan tanggapan merupakan perilaku seseorang. Sebagai misal, apabila seorang harus menyelesaikan perselisihan yangterjadi antara dua orang. Keinginannya untuk menyelesaikan perselisihan, keinginan untuk tidak mengacuhkan ataupun keinginan mempertajam perselisihan tersebut, merupakan kepribadiannya, sedangkan tindakannya dalam mewujudkan keinginan tersebut merupakan perilakunya.
Definisi kepribadian menurut Theodore M Newcomb :
Organisasi sikap-sikap (predisposisitions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.

Kepribadian menunjuk pada organisasi sikap–sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, berpikir dan merasakan secara khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Karena kepribadian merupakan abstraksi individu dan kelakuannya sebagaimana halnya dengan masyarakat dan kebudayaan, maka ketiga aspek tersebut mempunyai hubungan yang saling pengaruh – mempengaruhi satu dengan lainnya. Hubungan tersebut digambarkan dalam diagram di bawah ini



Diagram Hubungan Masyarakat, Kepribadian, dan Kebudayaan

MASYARAKAT
KEBUDAYAAN
INDIVIDU
DAN PERILAKUNYA
KEPRIBADIAN
Sumber : Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (1990), Rajawali Pers : Jakarta, hal 203

Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan lain-lain sifat yang khas dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain dengan kata lain Kepribadian terbentuk melalui proses sosialisasi . Adapun wujud nyata kepribadian secara nyata terlihat di dalam peranan dan status sosial yang dimilikinya. Diagram di bawah ini merupakan hubungan antara kepribadian, sosialisasi, Peranan dan Status Sosial.

Faktor :
Biologis
Psikologis
Sosiologis
SOSIALISASI
PERANAN/
STATUS
SOSIALDiagram Hubungan Antara Kepribadian, Sosialisasi, Peranan dan Status Sosial
PERSONALITY
CAPITAL
Sumber : Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (1990), Rajawali Pers : Jakarta, dari data diolah


B. Unsur Unsur Kepribadian

1. Pengetahuan.
A. Alam Sadar (conscious nature)
1. Persepsi : Seluruh proses akal manusia yang sadar (conscious)
Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Dalam lingkungan individu itu ada bermacam - macam hal yang dialaminya melalui penerimaan panca inderanya serta alat penerima atau reseptor organismanya yang lain, sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal (panas-dingin) dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagian-bagian tertentu dari otaknya. Di sana berbagai macam proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran dan tekanan tadi diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi.
2. Apersepsi : Penggambaran baru dengan pengertian baru
Penggambaran tentang lingkungan dengan fokus kepada bagian-bagian yang paling menarik perhatian seorang individu, seringkali juga diolah oleh suatu proses dalam akalnya yang menghubungkan penggambaran tadi dengan berbagai penggambaran lain sejenis yang pernah diterima dan diproyeksikan oleh akalnya dalam masa yang lalu, yang timbul kembali sebagai kenangan atau penggambaran lama dalam kesadarannya. Dengan demikian diperoleh suatu penggambaran baru dengan lebih banyak pengertian tentang keadaan lingkungan tadi.
3. Pengamatan : Penggambaran yang lebih intensif terfokus, yang tejadi karena pemusatan akal yang lebih intensif
Ada kalanya suatu persepsi, setelah diproyeksikan kembali oleh individu, menjadi suatu penggambaran berfokus tentang lingkungan yang mengandung bagian-bagian yang menyebabkan bahwa individu itu, karena tertarik, akan lebih intensif memusatkan akalnya terhadap bagian-bagian khusus tadi.
4. Konsep : Penggambaran secara abstrak
Seorang individu dapat juga menggabung dan membanding-bandingkan bagian-bagian dari suatu penggambaran dengan bagian-bagian dari berbagai penggambaran lain yang sejenis, berdasarkan azas-azas tertentu secara konsisten. Dengan proses akal itu individu mempunyai suatu kemampuan untuk membentuk suatu gambaran baru yang bersifat abstrak, yang sebenarnya dalam kenyataan tidak serupa dengan salah satu dari berbagai macam penggambaran yang menjadi bahan konkret dari'penggambaran barn itu. Dengan demikian manusia dapat membuat suatu penggambaran tentang tempat-tempat tertentu di muka bumi ini, bahkan juga di luar bumi ini, padahal ia belum pernah berpengalaman melihat, atau mempersepsikan tempat-tempat tadi.
5. "fantasi" : Penggambaran baru yang seringkali tidak realistik
Dalam usaha pengamatan oleh seorang individu dengan cara seperti terurai di atas, maka penggambaran tentang lingkungannya tadi ada yang ditambah-tambah dan dibesar-besarkan, dan ada yang dikurangi serta dikecil-kecilkan pada bagian bagian tertentu; ada pula yang digabung-gabungkan dengan penggambaran-penggambaran lain, menjadi penggambaran yang baru sama sekali, yang sebenarnya tidak akan pernah ada dalam kenyataan.
b. Alam Bawah Sadar ( sub conscious nature )
Banyak pengetahuan atau bagian-bagian dari seluruh himpunan pengetahuan yang ditimbun oleh seorang individu selama hidupnya itu, seringkali hilang dari alam akalnya yang sadar, atau dalam "kesadarannya," karena berbagai macam sebab yang banyak dipelajari oleh ilmu psikologi ini. Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa unsur unsur pengetahuan tadi sebenarnya tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk saja ke dalam bagian dari jiwa manusia yang dalam ilmu psikologi disebut alam "bawah sadar" (sub-conscious).
Dalam alam "bawah-sadar" tadi banyak pengetahuan individu larut dan terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang seringkali tercampur satu sama lain dengan tidak teratur. Proses itu terjadi karena tidak ada lagi akal sadar dari individu bersangkutan, yang menyusun dan menatanya dengan rapi walaupun terdesak ke alam bawah sadar, namun kadang-kadang bagian-bagian pengetahuan tadi mungkin muncul lagi di alam kesadaran dari jiwa individu tersebut. Kita semua juga sering mengalami bahwa kita pada suatu ketika teringat kembali dalam bentuk sebagian, atau saling tercampur dengan berbagai bagian dari beberapa pengetahuan lain, hal-hal yang telah lama kita lupakan.
c. Alam tak sadar (unconscious)
Pengetahuan seorang individu dapat juga terdesak atau dengan sengaja didesak oleh individu itu, karena berbagai alasan yang telah banyak dipelajari oleh ilmu psikologi, ke dalam bagian dari jiwa.manusia yang lebih dalam lagi, yaitu bagian yang dalam ilmu psikologi di sebut alam "tak-sadar" (unconscious). Di sanalah pengetahuan individu larut dan terpecah-pecah kedalam bagian-bagian yang saling terbaur dan tercampur. Bagian bagian dari pembauran dan campuran pengetahuan seperti itu tadi kadang-kadang dapat muncul kembali, yaitu pada saat-saat akal yang mengatur alam kesadaran individu berada dalam keadaan kendor atau tak berfungsi.
Proses-proses psikologi yang terjadi dalam alam bawahsadar dan alam tak-sadar tadi, yang banyak dipelajari oleh bagian dari ilmu psikologi yang disebut ilmu psiko-analisa, yang dikembangkan oleh seorang ahli psikologi Jerman terkenal, yaitu S. Freud, tidak akan kita perhatikan lebih lanjut dalam buku pelajaran ilmu antropologi ini. Untuk mendapat pengertian tentang azas-azas kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia, untuk sementara kita akan memperhatikan bagian kesadaran saja dari alam jiwa manusia.

2. Perasaan : suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif atau negative dan bersifat subyektif atau berbeda antara individu satu dengan lainnya. Terbagi ke dalam tiga jenis, yakni :
a. Kehendak : keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang menurut individu tersebut baik bagi dirinya, atau keinginan untuk menjauhi sesuatu hal karena menurut individu tersebut buruk baginya.
b. Emosi : suatu keinginan yang cukup keras, didalam hatinya sehingga mampu mempengaruhi panca indera maupun organ tubuh lainnya
c. Dorongan / naluri (drive) : suatu keinginan yang muncul sebagai akibat kandungan di dalam organisme / gen seseorang ( individu). Paling sedikit ada tujuh dorongan yakni :
1. Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini memang merupakan suatu kekuatan biologi yang juga ada pada semua mahluk di dunia ini dan yang menyebabkan bahwa semua jenis mahluk mampu mempertahankan hidupnya di muka bumi ini.
2. Dorongan sex. Dorongan biologis yang mendorong mahluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya.
3. Dorongan untuk usaha mencari makan. Dorongan ini tidak perlu dipelajari, dan sejak bayi pun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makan, yaitu dengan mencari susu ibunya atau botol susunya.
4. Dorongan. untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai mahluk kolektif.
5. Dorongan untuk meniru tingkah-laku sesamanya. Dorongan ini merupakan sumber dari adanya beraneka warns kebudayaan di antara mahluk manusia karena adanya dorongan ini manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat konform dengan manusia sekitarnya.
6. Dorongan untuk berbakti. Dorongan ini mungkin ada dalam naluri manusia, karena manusia merupakan mahluk, yang hidup kolektif, sehingga untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi is perlu mempunyai suatu landasan biologi untuk mengembangkan rasa altruistik, rasa simpati, rasa cinta dan sebagainya, yang memungkinkannya hidup bersama itu. Kalau dorongan untuk berbagai hal itu diekstensikan dari sesama manusianya kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaanya dianggap berada di luar akalnya, maka akan timbul religi.
7. Dorongan akan keindahan, dalam anti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak.

Seorang ahli Ethnopsikologi, AFC Wallace, membauat kerangka kepribadian yang mencakup semua unsur di atas dan mengkategorikan tiga isi pokok dari kepribadian, seperti di dalam bagan di bawah ini :
Bagan kepribadian
A
B
C










Keterangan :
A. Kebutuhan organik, lebih menyangkut segmen naluri (dorongan). Apabila terpenuhi akan memuaskan individu tersebut , namun apabila tidak maka akan bernilai negatif dan menimbulkan reaksi pelampiasan, yang bisa menyakibatkan suatu penyimpangan dari suatu kepribadian
B. Kesadaran individu akan identitas diri
C. berbagai macam cara untuk memenuhi, memperkuat kebutuhan dan pencarian jati diri dengan menggunakan pengetahuan maupun perasaan
Apabila dibuat bagan alur maka pendapat Wallace dapat dibuat skema di bawah ini :

Pengetahuan
Perasaan
Drive / naluri
Kepribadian
Identitas diri









C. Kepribadian Umum
Karena materi yang merupakan isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu itu berbeda dengan individu lain, dan juga karena sifat dan intensitas kaitan antara berbagai macam bentuk pengetahuan dan perasaan pada seorang individu itu berbeda dengan individu lain, maka manusia itu sebenarnya mempunyai kepribadian yang berbeda. Walaupun demikian, hal itu tidak berarti bahwa ada tiga milyar macam kepribadian di dunia ini da membuat tipologi . Membuat tipologi dari aneka-warna kepribadian individu ini adalah satu segmen dari anthropologi sosial budaya., khususnya psiko anthropologi.
Linton dan Kardiner (1938) ,melakuan penelitian terhadap penduduk Kepulauan Marquesas . di bagian timur Pilinesia, dan suku banpa Tanala di bagian timur Pulau Madagaskar. Dalam usaha itu Linton mencari bahan etnografinya, sedangkan Kardiner menerapkan metode-metode psikologinya serta menganalisa data psikologinya. Hasilnya adalah sebuah buku berjudul The . Individual and His-Society (1938).
Dalam rangka proyek bersama antara Linton dan Kardiner tersebut, dipertajam konsep kepribadian umum sehingga timbul konsep "kepribadian dasar", atau basic personality structure, yang berarti: semua unsur kepribadian yang dimiliki bersama oleh suatu bagian besar dari warga sesuatu masyarakat itu. Kepribadian dasar itu ada karena semua individu warga dari suatu masyarakat itu mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama masa tumbuhnya.
Kaidah Penelitian Kepribadian
Merujuk cara yang dilakukan oleh para ilmuwan terdahulu, maka kebanyakan metodologi untuk mengumpulkan data mengenai kepribadian bangsa itu adalah dengan mengumpulkan suatu sampel dari individu-individu warga masyarakat yang menjadi obyek penelitian, kemudian tiap-tiap individu dalam sampel itu diteliti kepribadiannya dengan test-test psikologi. Hasilnya adalah suatu daftar ciri-ciri watak yang secara statistik ada pada suatu persentase yang besar dari individu-individu dalam sampel tadi.
Dua hal yang dipelajari adalah :
1. Kepengasuhan anak, terkait dengan sosialisasi, Lebih ditekankan kepada masalah : cara kepengasuhan, intensitas/ frekuensi sosialisasi. Terutama dikembangkan oleh ahli antropologi terkenal, Margaret Mead.
2. Adat istiadat, mencakup etika, moral norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat. Lebih ditekankan kepada pengaruhnya atas muatan dari kepribadian umum. Di bawah ini adalah rujukan yang memuat kata-kata kunci sehingga kita mampu membedakan antara etika, moral, norma dan nilai

Etika
memuat argument atas suatu asas/ kaidah/ prinsip umum yang harus kita patuhi. Mencakup kriteria baik atau buruk suatu tindakan, sikap seorang
Moral
memuat kepekaan tentang suatu asas/kaidah/prinsip di dalam berinteraksi dengan individu lain dalam suatu masyarakat. Unsur kepekaan suatu moral bersifat dogmatis sehingga kita melakukannya tanpa banyak pertimbangan
norma
memuat ukuran / sangsi atas suatu asas/kaidah/prinsip seperti yang tersebut di atas. Dengan kata lain jika dipatuhi akan mendpatkan pujian atau sebaliknya jika dilanggaran setipanya kan mendapatkan celaan, atau cemoohan
Nilai (Value)
mencakup titik tolak, isi, dan tujuan kehidupan
sesuatu (asas/ kaidah/prinsip) yang dijunjung tinggi, mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang
merupakan suatu landasan dari way of life

Karya –karya Antropolog tentang kepribadian :
Margareth Mead :
Growing Up in New Guinea (1930),
Children and Ritual in Rali (1955).
Bersama G. Bateson, Balinese Character. A Photographic Analysis (1942).

Kepribadian Barat dan Kepribadian Timur.
Dalam banyak tulisan tentang masalah kebudayaan sering dibicarakan soal perbedaan antara kepribadian manusia yang berasal dari kebudayaan -Barat, dan kepribadian manusia yang asal dari kebudayaan Timur. Pembicaraan seperti itu pada mulanya tercantum dalam tulisan-tulisan para sarjana sejarah kebudayaan, para pengarang karya kesusasteraan, serta para penyair Eropa Barat. Semua pandangan hidup yangberasal dari Eropa Barat disebut dengan Kepribadian Barat, sedangkan di luar Eropa Barat disebut dengan Kebudayaan Timur ; seperti Kebudayaan Islam, Hindu, Budha, dan Cina, karena letaknya geografinya semua memang di sebelah Timur Eropa. Di dalam mata kuliah ini kita hanya membahas kepribadian Timur.


Konsep kontras tersebut kemudian juga diambil alih oleh para' pengarang Asia sendiri, sehingga oleh para pengarang dan penyair Indonesia mulai dipakai konsep Timur-Barat dalam arti kontras tersebut, meskipun sifatnya masih kabur. Mereka yang suka mendiskusikan kontras antara kedua konsep tersebut biasanya menyangka bahwa kepribadian Timur mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan kolektif, sedangkan -kepribadian Barat mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan material, pikiran logis, hubungan berdasarkan azas guna, dan individualisme.
Penelusuran Kepribadian Melalui Folklore (Cerita Rakyat)
Selain kedua pendekatan dalam meneliti kepribadian umum diatas, juga terdapt pendekatan alternatif yang lebih efisien karena murah biayanya, yakni penelitian melaui cerita rakyat.
Folklore secara umum didefinisikan sebagai bagian kebudayaan berujud suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun. Diantara kolektif dalam berbagai macam versi yang berbeda dan bersifat tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat / mnemonik device (Danandjaja, 2002:2). Folklore biasanya mempunyai bentuk yang berpola sebagaimana dalam cerita rakyat atau permainan rakyat pada umumnya. Folklore pada umumnya mempunyai kegunaan atau fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif misalnya cerita rakyat sebagai alat pendidik, hiburan, protes sosial, dan proyeksi suatu keinginan yang terpendam.
Sebagai bentuk kebudayaan milik bersama (kolektif) folklore bersifat pralogis yaitu logika yang khusus dan kadang berbeda dengan logika umum. Penelitian tentang folklore telah banyak dilakukan untuk berbagai macam tujuan, misalnya untuk tujuan Antropologi, Pendidikan, Bahasa, Seni Pertunjukan, Sosiologi, dan berbagai pranata sosial. Penelitian folklore dapat juga dimanfaatkan untuk bidang Psikologi, karena folklore mengungkapkan secara sadar atau tidak sadar bagaimana suatu kolektif masyarakat berpikir, bertindak, berperilaku, dan memanifestasikan berbagai sikap mental, pola pikir, tata nilai, dan mengabadikan hal-hal yang dirasa penting oleh folk kolektif pendukungnya. Misalnya bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Minangkabau melalui pepatah, pantun, dan peribahasa. Demikian juga bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Jawa melalui permainan rakyat (dolanan, tembang), bahasa rakyat (parikan, tembung seroja, sengkalan, dsb.), puisi rakyat, ragam seni pertunjukan, lelucon, bahkan manifestasi dalam fisik kebudayaan seperti batik, wayang, tarian, dan sebagainya.
Sebagaimana dikemukakan oleh William R. Bascom (1965) bahwa empat fungsi utama folklore adalah : (a) sebagai sistem proyeksi yaitu alat pencermin angan-angan suatu kolektif, (b) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan anak, dan (d) sebagai alat pengawas atau kontrol agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Secara teori folklore berkaitan dengan tujuh unsur kebudayaan universal yaitu ekonomi (sistem pencaharian hidup), teknologi (sistem peralatan dan perlengkapan hidup), sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi. Berdasarkan tujuh unsur kebudayaan universal tersebut maka folklore dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar yaitu folklore lisan, folklore sebagian lisan, dan folklore bukan lisan. Brunvand (1968) menyatakan folklore terdiri atas mentifacts, sociofact dan artifacts. Selain itu kebudayaan pada hakikatnya merupakan tata kelakuan manusia, kelakuan manusia dan hasil kelakuan manusia, maka Psikologi Masyarakat Indonesia dapat dipahami melalui pengkajian folklore nusantara sebagai dasar pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia, baik dalam bentuk, fungsi dan maknanya. Dalam bidang antroplogi psikologi hal ini sangat penting. Antropologi budaya dan antropologi sosial yang memiliki hubungan erat dengan folklore dapat berhubungan dengan ilmu psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, ilmu psikiatrik, dan psikoanalisa secara produktif dan sistematis.
Sebagaimana telah diketahui psikologi kepribadian yang meliputi perkembangan dan psikiatri memiliki objek kajian kepribadian manusia dan usaha untuk memahami mengapa serta bagaimana pribadi berbeda antara satu dengan yang lain. Sementara itu dalam antropologi psikologi ada upaya menjembatani kebudayaan dan kepribadian yang pada intinya merupakan interdisiplin antara antropologi dan psikologi (Barnouw, 1963;Danandjaja 1994). Dengan mengambil konsep Francis L. K. Hsu (1961;Danandjaja 1994) maka psikologi masyarakat Indonesia dapat dipahami melalui pengkajian folklore nusantara sebagai dasar pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia dapat diupayakan dikaji melalui kajian kebudayaan (Culture on Studies) khususnya folklore dengan menitikberatkan:
• Cross cultural studies atau pengkajian lintas budaya mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya melalui analisis kritis berbagai folklore yang berkembang dan menyebar di nusantara;
• Segala bentuk kebudayaan dalam folklore sebagai variabel bebas (independent variable) maupun variabel terikat (dependend variable) yang berkaitan dengan kepribadian;
• Kajian atas individu dan kolektif masyarakat sebagai tempat atau wadah kebudayaan;
Selanjutnya perlu dilihat juga hubungan struktur sosial dan nilai budaya dengan pola rata-rata pengasuhan anak, perilaku yang diungkapkan melalui hubungan antara pola rata-rata pengasuhan anak dengan struktur kepribadian rata-rata, hubungan antara struktur kepribadian rata-rata dengan sistem peran dan aspek proyeksi dari kebudayaan. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah konsep kepribadian-kebudayaan (personality culture) yang timbul sebagai dampak interaksi antara psikologi dan antropologi.
Tiga kelompok besar masalah hubungan antara culture and personality seperti human nature, typical personality, dan individual personality berkaitan erat dengan munculnya hubungan antara perubahan kebudayaan dengan perubahan kepribadian dan hubungan kebudayaan dengan kepribadian “abnormal”. Selama ini banyak teori yang diambil dari Perspektif Barat. Melalui pengkajian secara kritis, analitis, dan berkelanjutan tentang cross culture studies dapat dimungkinkan diperoleh sebuah konsep, model, pendekatan, paradigma dan teori psikologi berbasis budaya Indonesia. Niels Mulder (2001) telah memulai kajian tentang variasi budaya dalam kepribadian suatu masyarakat seperti benturan antarkultur, antarkebudayaan, dan antar nilai pada masyarakat berbasis budaya timur khususnya Asia Tenggara, Indonesia, Thailand, Philipina dan Jawa. Hal ini sangat mungkin dapat dikembangkan lebih lanjut mengingat pandangan hidup dan kebudayaan bukan merupakan hal yang statis melainkan kebudayaan dapat dipandang sebagai petunjuk mental dalam kehidupan maupun sesuatu yang baru.
Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa bentuk-bentuk folklor Indonesia (Nusantara) dapat digolongkan dalam folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Folklor lisan bentuknya murni lisan, antara lain : bahasa rakyat, seperti logat, “julukan”pangkat tradisional, gelar kebangsawanan; ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, pemeo; pertanyaan tradisional seperti teka-teki (“bedhekan”); Puisi Rakyat seperti pantun, syair, gurindam, parikan;Cerita Prosa Rakyat seperti dongeng, mite, legenda; Dan Nyanyain rakyat. Folklor sebagian lisan meliputi : Kepercayaan rakyat seperti takhyul (superstitious); dan Permainan rakyat. Sedangkan folklor bukan lisan misalnya makanan rakyat, arsitektur, kerajinan rakyat, perhiasan tubuh, hgerak isyarat tradisional, musik rakyat dan bahasa isyarat untuk komunikasi.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di daerah-daerah, terutama yang masih mempertahankan nilai-nilai dan kebiasaan tradisional, hal-hal di atas masih atau sebagian masih diterapkan. Paling tidak untuk sebuah dongeng, permainan anak-anak, atau bahasa rakyat. Misalnya kisah pemanfaatan pepatah dan peribahasa pada masyarakat Minangkabau akan memberikan implikasi dan dampak psikologis dalam hubungan sosial serta pembentuk kepribadian. James Danandjaja pada 1972 telah berupaya mengumpulkan berbagai folklor Indonesia dan mengkajinya dalam perspektif antropologi.
Pengkajian folklor nusantara melalui metode survei lintas budaya untuk tujuan psikologi misalnya penelitian tentang praktik pengasuhan anak dengan unsur-unsur kebudayaan. Pengasuhan anak berpengaruh terhadap sifat-sifat kepribadian anak yang bersangkutan dan sifat-sifat kepribadian tersebut akan tetap menjadi kepribadiannya setelah ia dewasa. Banyak dongeng nusantara atau legenda yang di dalamnya dapat digali makna sistem tingkah laku, misalnya :
• Tingkah laku yang bersifat selalu minta dilayani.
• Tingkah laku yang bersifat suka mengungkapkan perasaan.
• Tingkah laku yang bersifat suka bergantung pada kemampuan sendiri.
• Tingkah laku yang bersifat mempunyai rasa tanggung jawab.
• Tingkah laku yang bersifat ingin mencapai sesuatu yang lebih baik.
• Tingkah laku yang bersifat patuh pada orangtua atau pemimpin.
• Tingkah laku yang bersifat gemar menolong orang lain yang sedang mengalami kesukaran.
• Tingkah laku yang ingin menguasai orang lain.
• Tingkah laku yang bersifat keramahan di dalam pergaulan.
• Tingkah laku yang bersifat suka menyerang baik sebagai akibat ancaman maupun kesempatan.
(John Whiting, Irving S., Child, et. al 1966:9-11,78-81; dalam Dananjaya, 1994:144).
Metode pemanfaatan folklor nusantara sebagai bahan penelitian antropologi psikologi atau dapat dimanfaatkan pada pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia dapat dilakukan melalui :
• Metode Tematik/ Thematic analisis; metode ini akan menganalisis tema-tema yang mendasari suatu bentuk folklor. Tema cerita dalam “Bawang merah dan bawang putih” bagi para gadis di Jawa; tema cerita Malim Kundang dari Minang; Joko Kendil bagi masyarakat Jawa; Si Pitung bagi masyarakat Betawi; peribahasa “sehari selembar benang, lama-lama menjadi selembar kain” dsb. merupakan bahan dasar alat peda gogik yang dapat memberi pesan positif.
• Analisis Hasil Produksi Material yang merupakan proses mempelajari budaya material suatu kolektif untuk memperoleh pengetahuan mendalam mengenai struktur kepribadian, sifat-sifat dan emosi para pemilik dan pendukung budaya. Misalnya mendengarkanm “klenengan” karawitan Jawa yang lembut dan tempo lambat, lukisan batik atau ornamen pada keris di Jawa; menunjukkan bagaimana ketelatenan, detail dan filosofis mewarnai kepribadian pendukungnya. Ornamen masa lalu yang penuh seni hias; sementara sekarang lebih polos dan sederhana menunjukkan pola kepribadian daya guna dan adiguna, dsb.
Ada tiga pendekatan untuk mengetahui kepribadian suatu masyarakat dengan memanfaatkan folklor. Pendekatan tersebut sebagaimana dikembangkan Victor Barnouw (dalam Dananjaya, 1994:153) adalah :
• Penelitian penjajagan (eksplorasi)
• Survey Lintas Budaya (cross culture surveys)
• Analisis intensivitas folklor suatu masyarakat.
Penelitian penjajagan (eksplorasi) misalnya menjajagi sejauh mana kesamaan tema semacam “oedipus complex” dalam cerita rakyat di Indonesia antara “Prabu Watu Gunung” di Jawa dengan Sangkuriang di Sunda, bahkan Oedipus di Barat. Motif menjadi dasar pijakan universalitas simbol-simbol psikologis (archetype arkais). Pendekatan yang kedua mencoba menghubungkan suatu nilai yang dititikberatkan pada suatu bentuk folklor, terhadap pola-pola tertentu (misalnya dalam pengasuhan anak). Dongeng-dongeng dari sejumlah suku di Indonesia dikumpulkan dan diberi skor untuk suatu kebutuhan mencapai sesuatu yang lebih baik dalm hal pengasuhan anak. Contoh lain untuk mengetahui perilaku agresif dan non agresif dari skor 12 dongeng anak di Indonesia. Tentunya untuk menghubungkan adanya tema-tema folklor pada pola pengasuhan anak. Sementara itu pada pendekatan yang ketiga dilakukan analisis terhadap intensivitas suatu folklor, baik intensif maupun kurang intensif folklor suatu masyarakat. Gambaran-gambaran kepribadian yang dapat dilihat dari aspek-aspek kebudayaan. Hubungan pria dan wanita dalam sejumlah cerita rakyat di Indonesia. Melalui pendekatan ini diketahui adanya struktur kepribadian dasar atau rata-rata yang khas dari kebudayaan yang bersangkutan, atau integrasi kebudayaan berkecenderungan untujk mengembangkan konsistensi tertentu di dalam folklornya. Bagaimanakah keterkaitan Cinderella di Barat dengan Andhe-andhe Lumut di Jawa?
Penelitian folklor yang pada dasarnya meliputi tahap pengumpulan, pengklasifikasian dan penganalisaan dimaksudkan untuk mendapatkan bahan pengetahuan tata kelakuan kolektif pendukung kebudayaan. Selanjutnya secara hermeneutis dapat dijadikan sebagai sarana epistemologis ke arah antropologi psikologi atau pemahaman piskologis berbasis budaya. Sumbangan folklor nusantara terhadap pemahaman psikologi berbasis budaya dapat dipandang sebagai salah satu strategi pengembangan ilmu.

D. Modal Personalitas dan Kaitannya dengan Modal Sosial lainnya
Pierre Bourdieu dalam Language and Symbolic Power (1997) menggunakan metafora ekonomi untuk menjelaskan berbagai sistem sosial, politik, dan kultural. Dalam setiap sistem itu selalu terbentuk medan persaingan mendapatkan posisi tertentu (sosial, politik, kultural), yang untuk itu diperlukan semacam modal (capital) serta kekuatan (power) agar dapat diperoleh keuntungan tertentu (profit), yakni :
1. Modal personal, yaitu segala kekuatan kepribadian yang dimiliki seorang (pemimpin), yang mendukung posisi tawar-menawarnya dalam medan sosial. Misalnya ada berbagai modal personal yang menonjol pada SBY: disiplin dan ketahanan psikis sebagai mantan prajurit, karisma yang kuat dan berpengaruh, intelektualitas yang tinggi, konsistensi dan integritas yang terjaga.
2. Modal simbolik (symbolic capital), yaitu modal abstrak berupa citra, prestise atau status seseorang, yang melekat dalam pikiran dan kesadaran masyarakat. Misalnya melalui bentukan historis-ditambah rangkaian kampanye iklan-sosok SBY lekat dengan citra orang tertindas, figur demokrat, pribadi berwibawa, dan tokoh yang properubahan.
3. Modal institusional (institutional capital) berupa institusi kelembagaan negara (kabinet, DPR, MPR, kejaksaan, kehakiman) yang mendukung iklim perubahan. Misalnya meski susunan Kabinet Indonesia Bersatu banyak mengundang pesimisme, terpilihnya Hidayat Nurwahid sebagai ketua MPR dan Abdul Rahman Saleh sebagai Jaksa Agung setidaknya dapat mengembuskan angin segar perubahan kepada masyarakat.
4. Modal politik (political capital), yaitu dukungan masyarakat pada sebuah kepemimpinan, yang ditunjukkan oleh pengakuan (recognition), loyalitas (loyalty) dan kesetiaan, kesediaan dan antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam perubahan bersama pemerintah, lewat solidaritas dan spontanitas mereka dalam memobilisasi gerakan-gerakan mendorong proses perubahan.
5. Modal kultural (cultural capital), yaitu aspek-aspek material dan nonmaterial kebudayaan yang mendukung proses perubahan, seperti nilai-nilai yang hidup, mentalitas yang tercipta, semangat kerja yang berkembang, kebiasaan mental yang tumbuh, dan hasrat perubahan yang muncul. Meski awalnya ada keraguan terhadap kesadaran dan pemahaman
Lantas bagaimanakah kedudukan atau fungsi Modal Kepribadian di dalam modal sosial ?
Untuk menjelaskannya maka terlebih dahulu kita perlu memahami definisi dan fungsi dari modal sosial itu sendiri. Dua tokoh utama yang mengembangkan konsep modal sosial yakni Putnam (1993)dan Fukuyama (1995) memberikan definisi modal sosial yang amat erat kaitannya , terutama menyangkut konsep kepercayaan. Putnam mengartikan modal sosial sebagai penampilan organisasi sosial seperti jaringan-jaringan dan kepercayaan yang memfasilitasi adanya koordinasi dan kerja sama bagi keuntungan bersama. Sedangkan menurut Fukuyama, modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan dalam sebuah komunitas.
Modal sosial dapat diartikan sebagai sumber interaksi antara orng-orang dlm suatu komunitas. Namun demikian, pengukuran modal sosial jarang melibatkan pengukuran terhadap interaksi itu sendiri, bahkan sebaliknya pengukuran dilakukan pada hasil dari interaksi tersebut. Merujuk pada Ridel (1997) ada tiga parameter modal sosial yakni :
Kepercayaan ( trust ) ; kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasrakan norma-norma yang dianut bersama (Fukuyama : 1995). Cox (1995) mencatat bahwa masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi atas aturan-aturan sosialnya cenderung bersifat positif, hubungan-hubungannya juga bersifat kerjasama. Lebih lanjut Cox mengemukakan bahwa kepercayaan sosial merupakan produk dari modal sosial yang baik. Adanya modal sosial yang baik ditandai oleh adanya lembaga-lembag sosial yang kokoh ; modal sosial melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam : 1995). Kerusakan modal sosial akan menimbulkan nomie dan perilaku anti sosial (Cox, 1995).
Norma ; terdiri dari pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, harapan-harapan dan tujuan – tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat bersumber dari agama, pandun moral, maupun standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerjasama (Putnam, 1993 : Fukuyama, 1995). Norma-norma dapat merupakan pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial.
Jaringan ; Infrastruktur dinamis dari modal sosial berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia (Putnam ; 1993). Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh. Orang mengetahui dan bertemu dengan orang lain. Mereka kemudian membangun inter-relasi yang kental, baik bersifat formal maupun informal (Onyx, 1996). Putnam (1995) berargumen bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama para anggotanya serta manfaat-manfaat dari partisipasinya itu.

Rabu, 14 November 2007

bab 3

Bab III
Kebudayaan

A. Definisi Kebudayaan
Kebudayaan dalam bahasa Inggris disebut culture. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Latin = colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah menjadi tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itu diberi arti “pembentukan dan pemurnian jiwa”. Sedangkan kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata buddayah. Kata buddayah berasal dari kata budhi atau akal. Manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya yaitu pikiran (cipta), rasa dan kehendak (karsa). Hasil ketiga potensi budaya itulah yang disebut kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dengan cipta manusia mengembangkan kemampuan alam pikir yang menimbulkan ilmu pengetahuan. Dengan rasa manusia menggunakan panca inderanya yang menimbulkan karya-karya seni atau kesenian. Dengan karsa manusia menghendaki kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan sehingga berkembanglah kehidupan beragama dan kesusilaan.

Pendapat Para Ahli Tentang Kebudayaan :
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski :
segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Andreas Eppink :
kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Edward B. Tylor :,
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi :
kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Menurut Ki Hajar Dewantara:
“Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat” sedangkan menurut Koentjaraningrat, guru besar Antropologi di Universitas Indonesia: “Kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu :
sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Adapun point utama yang harus dipenuhi oleh konsep kebudayaan adalah :
kebudayaan itu hanya dimiliki oleh masyarakat manusia;
kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar; dan
kebudayaan itu didapat, didukung dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
B. Unsur – Unsur Kebudayaan
Kebudayaan umat manusia mempunyai unsur-unsur yang bersifat universal. Unsur-unsur kebudayaan tersebut dianggap universal karena dapat ditemukan pada semua kebudayaan bangsa-bangsa di dunia. 1. Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu: a. Sistem religi yang meliputi:
sistem kepercayaan
sistem nilai dan pandangan hidup
komunikasi keagamaan
upacara keagamaan
b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi:
kekerabatan
asosiasi dan perkumpulan
sistem kenegaraan
sistem kesatuan hidup
perkumpulan
c. Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan tentang:
flora dan fauna
waktu, ruang dan bilangan
tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia
d. Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk:
lisan
tulisan
e. Kesenian yang meliputi:
seni patung/pahat
relief
lukis dan gambar
rias
vokal
musik
bangunan
kesusastraan
drama
f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi:
berburu dan mengumpulkan makanan
bercocok tanam
peternakan
perikanan
perdagangan
g. Sistem peralatan hidup atau teknologi yang meliputi:
produksi, distribusi, transportasi
peralatan komunikasi
peralatan konsumsi dalam bentuk wadah
pakaian dan perhiasan
tempat berlindung dan perumahan
senjata
2. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
alat-alat teknologi
sistem ekonomi
keluarga
kekuasaan politik
3. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
organisasi ekonomi
alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
organisasi kekuatan (politik)
C. Wujud dan komponen
C.1 Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
Gagasan(Wujud ideal)Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan)Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Artefak(karya)Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
C.2 Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
Kebudayaan materialKebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
Kebudayaan nonmaterialKebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional




D. Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan
Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
a. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
alat-alat produktif
senjata
wadah
alat-alat menyalakan api
makanan
pakaian
tempat berlindung dan perumahan
alat-alat transportasi
b. Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
berburu dan meramu
beternak
bercocok tanam di ladang
menangkap ikan
c. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
d. Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
e. Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
f. Sistem kepercayaan
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agama Kristen atau "5 rukun Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.
Agama Ibrahim (Agama Tauhid)
Yahudi adalah salah satu agama yang —jika tidak disebut sebagai yang pertama— tercatat sebagai agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus.
Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
Filosofi dan Agama dari Timur
Filosopi dan Agama seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China dan menyebar disepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.
Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari China, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.
Agama tradisional
Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai "agama nenek moyang", dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
"American Dream"
American Dream, atau "mimpi orang Amerika" dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memperdulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah "kota di atas bukit" (atau city upon a hill"), "cahaya untuk negara-negara" ("a light unto the nations"), yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.
Pernikahan
Ø Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan semacam pemberian berkah kepada orang yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan dihadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Orang Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya.
g. Sistem ilmu dan pengetahuan
Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi :
pengetahuan tentang alam
pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
pengetahuan tentang ruang dan waktu



E. Penetrasi (Difusi) Kebudayaan
Perubahan sosial budaya, ditinjau dari pahan non linearisme, dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing (penetrasi ) atau karena gejala alam (lingkungan). Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial :
tekanan kerja dalam masyarakat
keefektifan komunikasi
perubahan lingkungan alam.
Perubahan karena alam lingkungan :
Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.
Perubahan Karena Pengaruh Kebudayaan Lain :
Penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya, umumny amenjadi penyebab utama terjadinya perubahan sosial budaya non alami Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
Penetration pasipique
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
Penetration violante
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.
Terbentuknya Sub Kebudayaan
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender. Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.
G. Peradaban
Istilah peradaban dalam bahasa Inggris disebut Civilization. Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Dengan batasan-batasan pengertian di atas maka istilah peradaban sering dipakai untuk hasil-hasil kebudayaan seperti: kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi, adat sopan santun serta pergaulan. Selain itu juga kepandaian menulis, organisasi bernegara serta masyarakat kota yang maju dan kompleks. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Tiap-tiap masyarakat atau bangsa di manapun selalu berkebudayaan, akan tetapi tidak semuanya telah memiliki peradaban yang tinggi. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari hasil budidaya manusia baik cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan berwujud gagasan/ide, perilaku/aktivitas dan benda-benda. Sedangkan peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah dan maju.

a. Kebudayaan sebagai peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu —berkebudayaan dan tidak berkebudayaan— dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyakan ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama — masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai Kultur populer (Popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.
b. Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum"
Selama Era Romantis, para cendikiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme — seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austro-Hunggaria — mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif." Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.Pada tahun 50-an, subkebudayaan — kelompok dengan perilaku yang sedikit berbedan dari kebudayaan induknya — mulai dijadikan subjek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.
c. Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.
H. Kebudayaan menurut wilayah
Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama.
Afrika
Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam.
Amerika
Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
Asia
Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sama lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan tersebut memiliki pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam. Dalam bidang agama, agama Budha dan Taoisme banyak mempengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut, norma dan nilai Agama Islam juga turut mempengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia Selatan dan tenggara.


Australia
Kebanyakan budaya di Australia masa kini berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan Amerika tersebut kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan benua Australia, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua Australia, Aborigin.
Eropa
Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.
Timur Tengah dan Afrika Utara
Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah ini.




bab 2

BAB II
RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI BUDAYA

Anthropologi Budaya atau anthropologi sosial budaya merupakan salah satu cabang atau sub bidang anthropology yang mempelajari kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya dari sekelompok manusia, suku bangsa tertentu yang hidup terpisah / terpencil di suatu wilayah. Apabila dilihat secara sekilas hampir sama dengan sosiologi. Namun terdapat beberapa perbedaan pokok.

A. Perbedaan antara Antropologi Budaya dengan Sosiologi
Perbedaan diantara kedua disiplin ilmu tersebut terletak di dalam :
1. asal usul dan sejarah perkembangan :
a. Anthropologi budaya/ sosial- budaya, seperti sudah diuraikan di dalam bab 1, berasal dari himpunan catatan tentang masyarakat dan kebudayaan penduduk pribumi di daerah luar Benua Eropa yang semula dianggap primitif, himpunan catatan tersebut dikembangkan menjadi ilmu bangsa-bangsa (ethnologi) karena kebutuhan bangsa Eropa untuk mendapatkan pengetahuan tentang tingkat-tingkat permulaan dalam sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaannya demi kepentingan imperialisme dan pembangunan bangsa.
b. Sosiologi muncul sebagai suatu filsafat sosial dalam rangka mengembangkan suatu ilmu khusus tentang asas asas masyarakat dan kebudayaan secara umum. Ilmu ini lahir lebih dahulu dari anthropologi, dan salah satu faktor munculnya anthropologi selain karena kebutuhan politik, adalah karena usaha dari kaum sosiolog untuk menciptakan dasar- dasar, metode serta tujuan dari sosiologi. Aliran kualitatif yang cenderung meneliti sejarah dan dokumentasi di dalam sosiologi kemudian mengembangkan ilmu anthropologi.
2. Metodologi
a. Antropologi budaya/sosial budaya akan memulai suatu penelitian secara holistik sesuai dengan kaidah –kaidah yang tercakup di dalamnya seperti yang terurai di dalam Bab 1. Pengalaman dalam hal meneliti masyarakat kecil telah memberikan kesempatan kepada para ahli anthropologi untuk mengembangkan berbagai metode penelitian yang bersifat penelitian intensif dan mendalam seperti misalnya berbagai metode wawancara.
b. Sosiologi di dalam metodologi risetnya lebih menekankan perhatian kepada unsur-unsur atau gejala khusus dalam masyarakat dengan menganalisa kelompok-kelompok sosial yang khusus (social grouping), hubungan antar kelompok atau individu (sosial relation) atau proses-proses yang terdapat dalam kehidupan suatu masyarakat (social processes). Para sosiolog yang biasa meneliti masyarakat kompleks, lebih banyak mempergunakan berbagai metode penelitian yang bersifat luas ( massal) seperti metode angket. Selain itu di dalam Sosiologi muncul aliran positivist yang cenderung menggnakan statistik dan metode kuantitatif.

B. Hubungan Antara Anthropologi Dengan Ilmu – Ilmu Sosial Lainnya
Di bawah ini akan dibahas mengenai hubungan Anthropologi dengan ilmu – ilmu sosial lainnya yang dianggap memiliki korelasi penting dengan anthropologi sosial budaya
Hubungan antara Anthropologi dengan Ilmu Sejarah :
Anthropologi memberikan bahan prehistori sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di dundia. Selain itu banyak masalah dalam historiografi dari sejarah sesuatu bangsa dapat dipecahkan dengan metode-metode anthropologi. Banyak sumber sejarah berupa prasasti, dokumen, naskah tradisional, dan arsip kuno, sering hanya dapat memberi peristiwa – peristiwa sejarah yang terbatas kepada bidang politik saja. Sebaliknya, seluruh latar belakang sosial dari persitiwa –peristiwa politik tadi sukar diketahui hanya dari sumber-sumber tadi. Konsep konsep tentang kehidupan masyarakat yang dikembangkan oleh anthropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya akan memberi pengertian banyak kepada seorang ahli sejarah untuk mengisi latar belakang dari pristiwa politik dalam sejarah yang menjadi obyek penelitiannya.
Para ahli anthropologi sebaliknya memerlukan sejarah terutama sejarah dari suku bangsa dalam daerah yang didatanginya. Sejarah itu diperlukan untuk memecahkan soal-soal yang terjadi karena masyarakat yang ditelitinya mengalami pengaruh dari suatu kebudayaan dari luar. Pengertian tentang proses pengaruh tadi diketahuinya juga dengan teliti. Kecuali mengetahui tentang sejarah dari suatu proses perpaduan kebudayaan, seringkali terjadi bahwa sejarah tadi masih harus direkonstruksi sendiri oleh seorang peneliti. Dengan demikian seorang sarjana anthropologi seringkali harus juga memiliki pengetahuan tentang metode-metode untuk merekonstruksi sejarah dari suatu rangkaian peristiwa.

Hubungan antara Anthropologi dengan Ilmu Ekonomi
Dalam banyak negara dimana penduduk pedesaannya lebih banyak jumlahnya daripada penduduk kotanya, terutama di luar daerah kebudayaan Ero-Amerika, kekuatan, proses dan hukum-hukum ekonomi yang berlaku dalam aktivitas kehidupan ekonominya sangat dipengaruhi sistem kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan tadi. Dalam masyarakat dari negara-negara seperti itu seorang ekonom tidak dapat mempergunakan dengan sempurna konsep-konsep serta teori-teori tentang kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi tadi, tanpa suatu pengetahuan tentang sistem kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan tadi.
Dengan demikian seorang ekonom yang hendak membangun ekonomi di negara-negara serupa itu tentu memerlukan bahan komparasi misalnya mengenai sikap terhadap kerja, sikap terhadap kekayaan, sistem gotong royong dan berbagai bahan komparatif tentag berbagai unsur dari sistem kemasyarakatan di negara tadi, dan dalam hal in sangat diperlukan anthropologi.

Hubungan Antara Anthropologi dengan Psikologi
Psikologi sebagai suatu ilmu, sama dengan sosiologi, yakni merupakan pengembangan dari Ilmu filsafat , yang mengkhususkan pengkajian kepada masalah jiwa manusia dan perkembangannya secara umum. Perkembangan Psikologi menumbuhkan aliran positivist yang cenderung menggunakan alat statistik dan metode kuantitatif di dalam riset. Sementara kelompok kualitatif mencoba mengembangkan metode deskriptif induktif yang lebih mengutakan kajian tentang konsep dan sistem. Dari kelompok inilah muncul sutau interface dengan anthropologi dan melahirkan suatu sub bidang baru dalam anthropologi yakni ethnopsikologi atau anthro-psikologi.
Ethopsikologi merupakan sub bidang anthropologi yang menggunakan berbagai konsep psikologi di dalam risetnya, khususnya mengneai :
1. Kepribadian Bangsa
2. Peranan Individu dalam proses perubahan adat istiadat
3. Nilai Universal dari konsep-konsep psikologi


Masalah kepribadian bangsa timbul ketika hubungan antar bangsa mulai intensif, terutama sesudah Perang Dunia I. Sebelum itu orang Eropa juga menaruh perhatian terhadap masalah kepribadian terutama deskripsi tentang kepribadian suku bangsa di daerah jajahan mereka, namun istilah – istilah yang dipergunkaan dirasa kurang cermat dari sudut ilmu psikologi. Baru sekitar tahun 1920an, beberapa anthropolog berusaha mengadakan riset tentang kepribadian bangsa. Maslah utama yang mereka kemukakan adalah :
a. Apakah konsep kepribadian bangsa benar benar ada
b. Bilamanakah suatu ciri bangsa atau suku bangsa terlihat menonjol
c. Sampai seberapa jauh muncul pengecualian terhadap kepribadaian umum pada individu tertentu sebagai anggota dari suku bangsa/ bangsa / ras tertentu
Masalah peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat juga bayak dipelajari sekitar tahun 1920an, ketika para anthropolog, khususnya di Amerika Serikat mulai mempelajari secara detail proses perubahan sosial. Merujuk dari pendapat bahwa justru penyimpangan yang dilakukan oleh individu terhadap apa yang lajim dilakukan oleh masyarakat umum yang patuh terhadap adat adalah pangkal dari proses perubahan sosial atau kebudayaan. Maka perhatian yang khusus mulai diberikan kepada para anthropolog kepada konsep dan teori psikologi, karena seluk beluk kelakuan dan tindakan individu hanya dapat dipelajrai dan dipahami melalui ilmu psikologi.
Masalah nilai universal dari konsep psikologi juga mendapatkan perhatian para ahli anthropologi dengan pengalaman mereka dalam mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa. Para anthropolog meragukan eksistensi dari beberap konsep psikologi di dalam suku bangsa di luar Eropa. Konsep keguncangan jiwa, menurut mereka hanya dialami para remaja dalam masyarakat kota di negara Barat dan hal ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Timur yang sudah menerima pengaruh dari Barat. Bagan di bawah ini menunjukkan pemilahan ruang lingkup studi antara psikologi dan anthropologi

B. Metode Ilmiah Dalam Anthropologi
Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai pada kesatuan pengetahuan. Meode ilmiah merupakan pembeda ilmu pengetahuan dari himpunan pengetahuan ataupun pengetahuan an sich. Di dalam anthropologi metode ilmiah yang digunakan di dalam riset mencakup tiga tingkatan yakni :
1. Pengumpulan fakta :
Untuk anthropologi budaya, tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Dalam kenyataan, aktivitas pengumpulan fakta di sini terdiri dari berbagai metode observasi, pencatatan, pengolahan dan pendeskripsian fakta yang terjadi di dalam suatu masyarakat. Di dalam pengumpulan fakta ini anthropologi budaya cenderung menggunakan penelitian lapangan, meskipun penelitian laboratorium dan kepustakaan tidak dikesampingkan.
Di dalam penelitian lapangan, penelitian menggunakan sistem partisipan (participatory research) – dimana peneliti secara langsung menceburkan diri, dan berpartisipasi secara aktif untuk mendapatkan keterangan tentang gejala kehidupan manusia dalam masyarakat itu. Kecuali dari observasi, peneliti juga bisa mendapatkan bahan atau fakta dari informan.
Para peneliti anthropologi budaya biasanya sangat tertarik kepada tindakan-tidakan manusia dalam hubungan kelompok kecil. Dalam operasionalisasinya, segala sesuatu yang diamati, hasil wawancara dituangkan ke dalam field note, yang kemudian disunting sehingga bisa dijadikan bahan oleh para sarjana lain yang akan mengolah bahan itu ke dalam berbagai teori tentang azas-azas kebudayaan, atau sebagai rujukan ketika para sarjana tersebut datang sendiri ke lokasi penelitian.
2. Penentuan ciri-ciri umum dan sistem
Dilakukan dengan metode induksi atau usaha untuk mengumpulkan beberapa peristiwa, fakta yang bersifat khusus dan kongkret ke arah konsep-konsep mengenai ciri- ciri umum yang bersifat abstrak. Atau deduksi, yakni berusaha untuk mengumpulkan peristiwa, fakta yang bersifat khusus dan kongret sebagai dalil atau argumen dari teori umum yang sudah diungkapkan oleh para peneliti sebelumnya.
Di dalam anthropologi, pemakaian dua metode diatas harus diikuti degan metode komparratif ( perbandingan), yang biasanya dimulai dengan metode klasifikasi. Seorang peneliti menghadapi suatu obyek penelitian yang menunjukkan sifat beraneka warna dengan adanya beribu-ribu macam bentuk yang berbeda-beda harus berusaha dahul agar anek awarna itu dapat dikuasai dengan akalnya, dengan kata lain, ia harus mengecilkan jumlah aneka warna tadi menjadi satu jumlah yang kecil berdasarkan perbedaan pokok saja.
3. Verifikasi atau Pengujian Data
Anthropologi menggunakan metode verifikasi yang bersifat kualitatif, yakni mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam masyarakat secara nyata tetapi dengan cara khusus dan mendalam.

C. Point –Point di Dalam Antrolopologi Sosial Budaya
Setelah kita memahamai berbagai uraian dan konsep yang mendeskripsikan batas batas serta metodologi di dalam anthropologi sosial budaya maka selanjutnya dibahas tentang point-point utama yang terdapat di dalamnya. Secara sistematis pokok bahasan di dalam Antropologi Sosial Budaya adalah :
1. Kebudayaan
1.1 Definisi Kebudayaan
1.2 Unsur-Unsur Kebudayaan
1.3 Wujud Kebudayaan
1.4 Komponen Kebudayaan
1.5 Hubungan antar Unsur Kebudayaan
1.6 Penetrasi Kebudayaan
1.7 Peradaban
1.8 Kebudayaan Menurut Wilayah
2. Kepribadian :
2.1 Definisi Kepribadian
2.2 Unsur-usur Kepribadian
2.3 Aneka Warna Kepribadian
2.4 Adat Istiadat
2.5 Modal Personalitas
3. Masyarakat dan Sistem Sosial
3.1 Definisi Masyarakat
3.2 Berbagai Wujud Kolektif Manusia
3.3 Unsur Unsur Masyarakat
3.4 Pranata Sosial
3.5 Integrasi Sosial
3.6 Modal Sosial
4. Keragaman Kebudayaan Indonesia
4.1 Konsep Suku Bangsa
4.2 Suku Bangsa Suku Bangsa di Indonesia
4.3 Konsep Daerah Kebudayaan
4.4 Daerah Daerah Kebudayaan di Indonesia
4.5 Daerah Kebudayaan Jawa
5. Anthropologi Politik
5.1. Definisi dan Perkembangan Anthropologi Politik
5.2 Kedudukan Anthropologi Politik di dalam Anthropologi Sosial Budaya
5.3 Ruang Lingkup Anthropologi Politik
5.4 Manfaat Mempelajari Anthropologi Politik
5.5. Konsep Kekuasaan
5.6 Konsep Kekuasaan di dalam Kebudayaan Jawa
6. Konflik dan Solusinya
6.1 Definisi Konflik
6.2 Konflik di Dalam Masyarakat Tradisional
6.3 Peran Kepemimpinan di dalam Resolusi Konflik



Kepribadian Umum


bab 1

BAB I
DEFINISI DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI

A. Definisi Antropologi
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Para ahli mendefinisikan antropologi sebagai berikut:
William A. Haviland
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi,
yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
B. Sejarah Perkembangan Antropologi
Seperti halnya Sosiologi, Antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
1. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukkannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang dijajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung. Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.


C. Sejarah Antropologi Sebagai Ilmu
Anthropolog Eric Wolf mendeskripsikan anthropology sebagai “ilmu tentang manusia yang paling ilmiah dan ilmu yang paling manusiawi”. Contemporary anthropologists mengklaim beberapa pemikir terdahulu sebagai perintis ilmu antropologi kontemporer, dan disiplin mereka memiliki berbagai sumber ; Claude Lévi-Strauss, misalnya mengklaim Montaigne dan Rousseau sebagai sumber yang sangat berpengaruh. Anthropology akan lebih mudah dipahami jika dipandang sebagai hasil dari Abad Pencerahan, sebuah periode ketika Bangsa Eropa mulai mempelajari perilaku manusia secara lebih sistematis. Berbagai tradisi jurisprudensi, sejarah, filologi, dan sosiologi kemudian berkembang dan memformulasikan berbagai pandangan modern sehingga membentuk suatu disiplin ilmu baru, dan anthropology termasuk ke dalam kelompok ilmu baru tersebut. Pada saat yang sama, aliran romantisme muncul sebagai reaksi atas para pemikir realis Abad Pencerahan, sekelompok dari aliran romantisme ini adalah Johann Gottfried Herder dan Wilhelm Dilthey, yang membentuk konsep budaya, dan konsep ini kemudian menjadi dasar dari disiplin ilmu anthropologi.
Secara kelembagaan, anthropology muncul dari perkembangan sejarah alam yang dipelopori oleh berbagai orang seperti Buffon yang muncul selama kolonisasi Eropa di Abad 17, 18, 19, dan 20. Program-program studi ethnografi dalam masa ini berasal dari studi tentang manusia di masa Purba / primitive seperti yang telah diamati oleh ilmuwan dari kelompok kolonialis. Kecenderungan yang ada di masa Abad Pencerahan ini adalah ilmu ini digunakan untuk memahami masyarakat manusia sebagai fenomena alam dimana berperilaku sesuai dengan beberapa prinsip tertentu dan dapat diamati secara empiris. Faktor pembeda Antropologi dari ilmu eksakta adalah : mengamati bahasa, budaya, psikologi dan artifact tentu berbeda dengan mempelajari tumbuhan dan hewan secara ilmu alam. Di awal perkembangannya, anthropologi terbagi menjadi beberapa kelompok :
1. linealisme- yang mengargumentasikan bahwa seluruh masyarakat pasti melampaui tahap evolusi yang bersifat tunggal, mulai dari masa paling primitive sampai dengan masa teknologi modern. Pengaruh bangsa lain tidak mampu berperan sebagai katalisator ataupun pemicu tahap perkembangan suatu suku bangsa.
2. Multilineal atau Unilinealisme, lebih menekankan adanya suatu proses difusi, dimana suatu kejadian, maupun entitas baik dari dalam maupun luar sistem mampu mempengaruhi, baik mempercepat ataupun memperlambat proses evolusi suatu suku bangsa.
Seiring berkembangnya berbagai disiplin akademik menuju ke arah differensiasi wacana di abad 19, maka antropologi pun semakin menemukan bentuk dispilinnya yang berbeda dengan ilmu sejarah, dan ilmu kesusasteraan yang lebih menekankan kepada studi kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data dokumenter. Anthropologi lebih berfokus kepada studi kualitatif deskriptif eksperimental, khususnya kepada studi lapangan.
Di abad 20, disiplin akademik dari berbagai ilmu pengetahuan telah terbagi ke dalam tiga domain secara kelembagaan yakni :
a. Ilmu alam dan biologi, merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang berusaha untuk menemukan berbagai hukum alam secara umum melalui berbagai percobaan dengan menggunakan metode ilmiah dan uji test falsifikasi.
b. Kelompok ilmu humaniora, menggeneralisasikan atas berbagai tradisi lokal yang berbeda melalui sejarah, kesusasteraan, musik, seni dengan sebuah penekanan untuk mendapatakan pemahaman atau, individu, event ataupun masa / jaman tertentu.
c. Kelompok ilmu sosial, secara umum berusaha untuk mengembangkan metode ilmiah untuk memahami fenomena sosial. Secara khusus ilmu sosial terkadang lebih mengembangkan deskripsi statistik, atau menggunakan metode deduktif utuk membuat suatu generalisasi yang bersifat umum.
Perkembangan Anthropology di Inggris
E. B. Taylor, Antropolog Inggris Abad 19.
E. B. Taylor (1832 October 2–1917 January 2) dan James George Frazer (1854 January 1 – 1941 May 7) dipandang sebagai perintis anthropologi sosial budaya modern di Inggris Taylor melakukan penjelajahan di Mexico, kemudian bersama sama dengan Frazer melakukan studi banding atas hasil penelitian mereka masing-masing dengan rujukan berbagai teks klasik atas sejarah dan kesusasteraan Romawi dan Yunani, berbagai naskah tentang cerita rakyat Bangsa Eropa, laporan perjalanan kuam misionaris, pengembara serta berbagai tulisan dari kaum ethnolog kontemporer.Taylor amat mendukung unilinealisme dan menyetujui sebuah bentuk ”keseragaman budaya”. Taylor secara khusus meletakkan dasar teori difusi kebudayaan. Menurut Taylor, terdapat tiga jalan berbagai kelompok / suku bangsa dapat memiliki bentuk budaya ataupun teknologi yang serupa yakni melalui : penemuan independent, warisan dari kaum penjajah di daerah yang berbeda, dan transmisi dari satu ras/ suku bangsa menuju ras / suku bangsa lainnya
Taylor memformulasikan suatu konsep culture /budaya yang masih dipergunakan sampai sekarang. Menurutnya culture / budaya adalah :
"sekumpulan konsep yang cukup kompleks, mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan, serta berbagai keahlian dan kebiasaan lainnya yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota dari suatu masyarakat.”
Talyor mengkhususkan kajiannya tentang deskripsi dan pemetaan berbagai elemen dari kebudayaan, bukan membahas fungsi-fungsinya secara lebih luas. Perkembangan kebudayaan secara multilineal kemudian diteruskan oleh para antropolog penerusnya. Taylor juga mengeluarkan teori tentang asal muasal perasaan keagamaan di dalam peradaban manusia, dengan mengungkapkan teori animisme di masa purba, menurutnya animisme memiliki beberapa komponen yang terpenting adalah kepercayaan atas kekuatan supranatural, dan hal ini dipandang kontradiktif dengan sistem moral, dan kosmologi. James George Frazer, seorang ilmuwan Scotlandia yang memiliki pengetahuan luas tentang kesusasteraan juga mengkhususkan dirinya untuk mempelajari kepercayaan, mitos dan magis. Studi komparasinya sangat berpengaruh terhadap ilmuwan selanjutnya, dan terkumpul di dalam jurnal The Golden Bough, tulisannya kebanyakan menganalisis berbagai kepercayaan dan simbol simbol yang terdapat di berbagai penjuru dunia.
Baik Taylor maupun Frazer hanya melakukan kerja penelitian secara terpisah, belum sampai kepada tahapan menempatkan berbagai elemen kebudayan dan kelembagaan secara bersama-sama. Beberapa ilmuwan muda Inggris yang penuh semangat dan ambisi berusaha untuk menganalisa bagaimana masyarakat hidup berkelompok mereka lebih menekankan analisa sinkronis, bukan analisa sejarah atau analisa diakronis. Selain itu mereka juga melakukan analisa jangka panjang selama bertahun-tahun di suatu area kerja Universitas Cambridge mendanai sebuah ekspedi multidisipliner ke pulau-pulau yang terletak di jalur Torres pada tahun 1898 diorganisir oleh Alfred Court Haddon, melibatkan seorang anthropolog fisik, W. H. R. Rivers, juga seorang ahli linguistik, tumbuh tumbuhan, serta bebagai spesialis lainnya. Berbagai penemuan dari ekspedisi ini menetapkan beberapa standar baru dalam deskripsi ethnologi.
Satu dekade kemudian , Bronisław Malinowski, seorang anthropolog kelahiran Polandia (1884-1942) mulai melakukan pengumulan atas berbagai item kebudayaan, ketika PD I berlangsung, karena Imperium Austro Hongarian berada di dalam kekuasaan Inggris Raya, maka dia justru tertahan di Papua Nugini untuk melanjutkan penelitiannya, karangannya di dalam ethnografi klasik adalah Argonauts of the Western Pacific, (1922) mendukung sebuah pendekatan ke arah studi lapangan haruslah menjadi standart di bidang antropologi, guna mendapatkan suatu sudut pandang yang asli melalui observasi partisipant. Secara teoritis dia mendukung sebuah interpretasi fungsionalist yang memeriksa bagaimanakah kelembagaan sosal berfungsi untuk memenuhi kebutuhan individu. Anthropolog Inggris lainnya pada masa diantara Dua Perang Dunia adalah Meyer Fortes
A. R. Radcliffe-Brown juga mempublikasikan sebuah hasil kerja seminal di tahun 1922. Dia menjalankan studi lapangan di kepulauan Andaman dengan metode rekosntruksi sejarah. Setelah mempelajari hasil kerja sosiolog Perancis Émile Durkheim dan Marcel Mauss, maka Radcliffe-Brown mempublikasikan sebuah catatan riset berjudul The Andaman Islanders, menguraikan tentang makna dan tujuan upacara ritual dan mitos. Selanjutnya dia mengembangkan sebuah pendekatan yang dikenal dengan mana structural-functionalism, dimana pendekatan baru ini berfokus kepada bagaimanakah kelembagaan bekerja untuk menyeimbangkan system social sehingga mampu berfungsi secara harmonis (hal ini bertentangan dengan pendekatan fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski, juga amat jauh berbeda dengan berbagai pemikir structuralism dari Perancis – dimana para ilmu Perancis ini lebih memeriksa konsep struktur di dalam bahasa dan symbol
Radcliffe-Brown, juga mengembangkan anthropologi social dan mengampu mata kuliah tersebut di dalam wilayah Commonwealth Inggris mulai dari akhir tahun 1930an sampai dengan priode Pasca Perang Dunia. Dia mengeluarkan banyak tulisan, dan monografi serta mengelola Jurnal ilmiah yang yang menjadi dasar paradigma British Social Anthropology (BSA). Di dalam jurnal asuhannya banyak tulisan tentang ethnografi yang terkenal seperti The Nuer, oleh Edward Evan Evans-Pritchard, dan The Dynamics of Clanship Among the Tallensi, oleh Meyer Fortes; beberapa tulisan serial yang dikemas di dalam terbitan khusus mencakup African Systems of Kinship and Marriage and African Political Systems.
Max Gluckman, bersama-sama dengan koleganya di Rhodes-Livingstone Institute dan beberapa mahasiswanya di Manchester University, kemudian terkenal dengan nama mazhab Manchester, membawa BSA ke dalam arah baru dengan mengenalkan theori Marxist khususnya penekanan pada konflik dan resolusi konflik, serta cara bagaimana individu bernegoisasi dan menggunakan berbagai structur social untuk menyelesaikan konflik. Pada tahun 1960s dan 1970s, Edmund Leach dan para mahasiswanya diantaranya adalah Mary Douglas and Nur Yalman, mengenalkan strukturalisme Perancis dengan gaya Lévi-Strauss; sementara anthropology versi Inggris terus berlanjut untuk menekankan studi pada organisasi social dan ekonomi melalui studi atas symbol –simbol dan topik –topik yang terdapat di dalam kesusasteraan.
Perbedaan antara Anthropologi Sosial Budaya Inggris, Perancis, dan Amerika menjadi semakin terlihat di dalam theori dan methodenya. Di Inggris Anthropologi sosial telah menggunakan berbagai teori dari cabang ilmu sosial lainnya serta memiliki banyak cabang ilmu pengetahuan . Namun di wilayah Commonwealth Inggris (bekas jajahan Inggris) Anthropologi Sosial seringkali secara kelembagaan terpisah dari anthropologi fisik dan primatologi- yang terakhir ini lebih banyak dikaitkan dengan cabang –cabang dalam ilmu biologi ataupun zoology. Sementara archeologi dikaitkan dengan kesusasteraan Kuno / Klasik dan Egyptology. Di Negara-negara lain, khususnya di beberapa universitas kecil di Inggris dan Amerika Utara, para Antropolog juga menemukan bahwa diri mereka secara kelembagaan terkait dengan para ilmuwan dari bidang kesusateraan, studi museum, geografi manusia sosiologi, hubungan sosial, studi ethnic, studi budaya dan kerja sosial
Perkembangan Anthropology di Amerika Serikat 1800s to 1940s
Mulai permulaan abad 19 sampai dengan abad 20, anthropologi di Amerika Serikat terpengaruh oleh kehadiran masyarakat Indian (sebagai suku bangsa asli Benua Amerika). Penguasa Koloni disana : Inggris , Perancis, Spanyol dan Portugis berusaha melibatkan ilmu ini untuk usaha pembinaan kebangsaan atau civilization sehingga suku bangsa India bersedia membaur dengan mereka. Konflik kepentingan muncul antara keinginan untuk menggunakan anthropologi hanya untuk kepentingan ilmiah semata dengan menggunakannya sebagai alat kolonialisme yang cenderung bersifat pemaksaan, dan eksploitasi membuat para anthropolog sebagai sumber kritikan ataupun kecaman Karena dianggap sebagai antek kolonialisme.
Anthropologi Boasian
Franz Boas, adalah salah seorang pioner anthropologi modern dan disebut sebagai “Bapak Anthropologi Amerika”. Anthropologi Budaya di Amerika Serikat sangat terpengaruh obyeknya yakni Masyarakat Indian. Bidang ini dipelopori oleh staff Bureau of Indian Affairs dan lembaga Ethnologi Amerika . Para anthropolog seperti John Wesley Powell, Frank Hamilton Cushing, serta Lewis Henry Morgan (1818-1881), seorang ahli hukum dari Rochester, New York, menjadi pendukung perkembangannya, Antrolopologi Sosial di Amerika cenderung menjadi Anthropologi Politik- Obyeknya tidak hanya suku bangsa Indian melainkan juga kaum Imigran. Studi Morgan, terutama tentang kinship, amat berpengaruh dalam perkembangan cabang anthropologi jenis ini Morgan mengargumentasikan bahwa : Masyarakat manusia seharusnya diklasifikasikan ke dalam kategori evolusi budaya dalam skala mulai dari tahap buas / barbar menuju tahap peradaban, umumnya Morgan menggunakan Indikator teknologi , seperti pembuatan busur dan anak panah untuk menentukan posisi suatu suku bangsa ke dalam skala miliknya.
Franz Boas membawa para akademisi anthropologi di Amerika Serikat untuk menentang theori evolusi. Kaum Anthropolog Boasian secara politis sangat didikte oleh Pemerintah AS dan Kaum Kapitalist, sifatnya sangat empiris dan skeptis dalam usahanya untuk menetapkan berbagai hukum hukum yang bersifat universal. Boas pernah mempelajari anak-anak dari kaum Imigran untuk menunjukkan bahwa ras biologis tidaklah kebal dan generasi manusia terbentuk oleh makanan dan interaksi bukan oleh gen nenek moyangnya Terpengaruh oleh tradisi Jerman, Boas mengargumentasikan bahwa dunia penuh dengan berbagai budaya yang berbeda dan evolusi tidak dapat diukur dari seberapa besar mereka memasuki tahap peradaban. Boas percaya bahwa setiap budaya harus dipelajari secara khusus dan generasi lintas budaya akan muncul membentuk suatu budaya baru. Boas berjuang melawan diskriminasi terhadap kaum imigram khususnya yang berasal dari Benua Afrika, dan juga diskriminasi terhadap suku bangsa Indian sebagai penduduk asli Bangsa Amerika. Banyak Anthropolog Amerika mengambil berbagai agenda kegiatan penelitinnya dalam rangka reformasi sosial, dan berbagai teorinya tentang ras berlanjut dipergunakan sampai sekarang, bahkan empat Ruang Lingkup Antropologi yang dipergunakan sekarang, sebenarnya berasal dari Kaum Boasian : empat ruang lingkup tersebut adalah Anhtropologi sosial budaya, Antropologi Biologi, Lingusitik dan archeologi / antropologi pra sejarah
Boas menggunakan posisinya di Universitas Columbia dan American Museum of Natural History untuk melatih dan mengembangkan generasi ilmuwan baru. Generasi pertama dari mahasiswanya antara lain : Alfred Kroeber, Robert Lowie, Edward Sapir dan Ruth Benedict, semuanya secara produktif menulis tentang budaya asli Amerika Utara dan menentang teori evolusi tunggal / linear.
Publikasi berbagai buku teks dari Alfred Kroeber, Anthropology, menandai sebuah titik peralihan menuju suatu generalisasi. 'Culture and Personality' buku yang ditulis oleh Margaret Mead dan Ruth Benedict., umumnya sangat terpengaruh oleh psikolog bidang psiko analistis seperti Sigmund Freud dan Carl Jung, buku ini berusaha untuk mencari pemahaman tentang berbagai personalitas setiap individu khususnya terkait dengan kekuatan sosial budaya dari lingkungan.
Perkembangan Anthropology in Canada
Athropology di Canada sama seperti di belahan bumi lain adalah sebagai bagian dari dunia kolonial, data yang dipergunakan adalah berbagai catatan kaum pengembara dan misionaris seperti pendeta – pendeta dari gereja LeClercq, Le Jeune dan Sagard. Usaha yang serius mulai dilakukan ketika pemerintah menetapkan Divisi Anthropologi di dalam Survey Geologis pada tahun 1910. Para Anthropolog umumnya diambil dari Inggris dan AS, umumnya adalah kaum Boasian dan para ahli bahasa dari Oxford seperti Marius Barbeau and Diamond Jenness.
Posisi Akademik yang pertama di bidang Anthropologi, diberikan kepada Thomas McIlwraith di University of Toronto pada tahun 1925. Beberapa universitas seperti UBC dan McGill, pada tahun 1947 mulai mempekerjakan para anthropolog he next universities to hire anthropologists, dan PhD pertama di bidang Anthropologi diraih di tahun 1956, hanya dalam waktu yang singkat beberapa Universitas di Canada mampu menghasilkan lulusan Ph D lainnya sampai dengan akhir tahun 1960an. Tahun 1970an merupakan puncak perkembangan universitas dan profesi sebagai Anthropolog di Canada, smapai dengan tahun 1980 sudah dihasilkan 400 doktordi bidang Anthropologi dan dipekerjakan di Canada, disamping lulusan Master. Harry Hawthorne mendirikan departemen Anthropologi di UBC dan menetapkan standart riset anthropologi sebagai tuntunan kebijakan public bagai Pemerintah Federal Canada, penyusunannya dibantu oleh M.-A. Tremblay, buku petunjuk tersebut berjudul "A Survey of the Contemporary Indians of Canada" (1966, 1967).
Anthropologi di Canada memiliki karakterisik perpaduan antara type Boasian di AS, Inggris dgn penekanan atas fungsi dan proses sosial, dan Francophone merintis riset di area pedesaan dan suku bangsa terpencil. Isu kesenjangan sosial, kesinambungan, perubahan, ekonomi politik, lingkungan, dan ekologi budaya, personalitas, budaya dan simbol-simbolnya mendominasi wacana anthropologi di Canada sejak PDI sampai dengan Perang Vietnam.
Perkembangan Anthropology Di Perancis
Anthropology di Perancis kurang memiliki asal muasal yang jelas jika dibandingkan dengan Inggris dan Amerika Serikat, karena banyak ilmuwan Perancis yang meneliti Anthropologi umumnya sudah memiliki latar belakang sosiologi, ataupun filsafat Marcel Mauss (1872-1950), keponakan dari Sosiolog Émile Durkheim dipandang sebagai perintis Ilmu Anthropologi di Perancis. Mauss menjadi anggota dari kelompok Année Sociologique yang didirikan oleh Durkheim dan selagi Durkheim serta yang lainnya meneliti masyarakat modern maka Mauss dan rekanannya seperti Henri Hubert dan Robert Hertz mengambil spesialisasi ethnography dan philology (ilmu bahasa-bahasa) untuk menganalisa berbagai masyarakat yang dipandang berbeda dari bangsa Eropa. Hasil karya Mauss yang terkenal dan masih memiliki relevansi sampai sekarang adalah Essay on the Gift sebuah analisa seminal tentang perdagangan dan system barter.
Berbeda dengan di Inggris di Perancis tidak terdapat perbedaan yang nyata antara ethnologi, anthropologi sosial dan anthropologi budaya. Di sepanjang waktu Antara Dua Perang Dunia, Ketertarikan akademisi anthropologi cenderung ke arah gerakan kebudayaan ke arah yang lebih luas, menjurus ke arah pengaruh surrealism and primitivism di dalam ethnografi. Marcel Griaule dan Michel Leiris contoh ilmuwan yang kemudian bergabung dengan para pelopor anthropology versi Perancis. Pada saat itu apa yang diketahui tentang ethnologi hanya terbatas kepada museum saja, dan anthropologi memiliki hubungan yang erat dengan studi tentang cerita rakyat.
Claude Lévi-Strauss membantu melembagakan anthropology di Perancis dengan menambahkan pengaruh structuralism sehingga meluas melewati batas –batas multi disipliner, Lévi-Strauss menetapkan ikatan dengan Anthropologi Inggris dan Ameriks Serikat. Pada saat yang sama dia mendirikan pusat kajian dan laboratorium di Perancis untuk menyediakan sebuah konteks kelembagaan di dalam anthropology dan sebagai sarana untuk melatih para mahasiswa yang kelak akan menjadi ilmuwan berpengaruh seperti Maurice Godelier dan Françoise Héritier.
Banyaknya karakter yang Berbeda dari Anthropolgi Perancis sekarang adalah hasil dari fakta bahwa kebanyakan riset Anthropologi didanai oleh pemerintah melalui CNRS atau laboratorium Riset Nasional, bukan oleh Universitas
Anthropolog lain yang terkenal di tahun 1970an adalah Pierre Clastres, yang melakukan penelitiana atas suku bangsa Guayaki di Paraguay, dimana suku bangsa primitive tersebut secara aktif menentang kebijakan Pemerintah Paraguay. Meskipun primitive, suku bangsa tersebut memiliki lembaga pemegang kekuasaan bersifat terpisah dari masyarakatnya yang berperan sebagai juru bicara dan negoisator dengan kelompok lain.
Ilmuwan lainnya di bidang Anthropologi yang terpenting setelah jaman Foucault dan Lévi-Strauss adalah Pierre Bourdieu, sebelumnya dia mendalami filsafat dan sosiologidan pernah menjabat Kepala Departemen Sosiologi di Collège de France. Seperti Mauss dan yang lainnya dia mengelaborasikan kedua ilmu baik sosiologi maupun anthropologi. Risetnya yang terkenal adalah tentang suku bangsa Kabyles di Aljazair mampu mengukuhkan namanya sebagai Anthropolog Eropa, selain itu analisanya tentang fungsi dan reproduksi pakaian dan Kapitalisme Kebudayaan di Dalam masyarakat Eropa mampu mengukuhkan namanya di jajaran Sosiolog Eropa.
Di Negara –Negara Lain
Anthropology di Yunani dan Portugis sangat terpengaruh oleh Anthropologi Inggris Di Yunani, Anthropologi sudah ada sejak Abad 19 sebagai ilmu cerita rakyat yang dikenal dengan nama laographia (laography), di dalam bentuk sebuah ilmu interior, yang lemah sekali teoritisnya, tetapi konotasi dari bidang ini berubah pesat setelah PD II, ketika muncul gelombang Anthropolog Anglo-Amerika, mengenalkan sebuah ilmu tentang dunia luar – yakni tentang suku bangsa yang dianggap terbelakang. Di Italia perkembangan Ethnografi tidak menunjukkan perkembangan yang pesat, bahkan di Jerman dan Norwegia muncul konflik antar ilmuwan yang berfokus kepada isu sosial budaya domestic dengan sosial budaya asing
Anthropology setelah PD II : Meningkatnya Dialog di dalam Anglophone anthropology
Sebelum PD II, Ilmuwan anthropologi sosial Inggris dan Anthropologi Budaya Amerika masih merupakan tradisi keilmuwan yang berbeda. Setelah PD II, cukup bnayak para Anthropolog Inggris dan Amreika yang saling tukar menukar ide dan satu sama lain mulai berbicara secara kolektif sebagai Anthropologi Sosial Budaya. Pada tahun 1950an dan pertengahan tahun 1960an anthropology cenderung mulai menemukan jati diri keilmuannya setelah Ilmu –Ilmu Alam. Beberapa Anthropolog seperti Lloyd Fallers dan Clifford Geertz, memfokuskan diri kepada proses modernisasi dengan jalan mempelajari Negara- negara yang baru saja merdeka. Sementara Julian Steward dan Leslie White, berfokus kepada bagaimana masyarakat mengelola dan menyesuaikan ekologi sekelilingnya sehingga bisa meraih manfaat yang sebanyak-banyaknya.- Sebuah pendekatan yang dipopulerkan oleh Marvin Harris adalah Economic anthropology, terpengaruh oleh Karl Polanyi dan dilanjutkan oleh Marshall Sahlins dan George Dalton, mereka berfokus kepada bagaimanakah ekonomi tradisional berjalan, namun mengabaikan factor sosial dan budaya. Di Inggris paradigma British Social Anthropology's paradigm mulai terpecah di satu sisi Max Gluckman and Peter Worsley terpengaruh oleh Marxism sementara beberapa ilmuwan lainnya seperti Rodney Needham dan Edmund Leach menggunakan structuralism milik Levi Strauss. Structuralism juga mempengaruhi sejumlah perkembangan di tahun 1960an dan 1970an, mencakup cognitive anthropology and analisa komponensial. Beberapa Ilmuwan seperti David Schneider, Clifford Geertz, dan Marshall Sahlins mengembangkan sebuah konsep baru atas kebudayaan yakni : Kebudayaam adalah sebuah jaringan pemaknaan atau signifikansi, dimana hal ini akan semakin meningkatkan ruang lingkup disiplin ilmu ini Seiring degan perkembangan jaman, anthropology menjadi terpolitisir, mis peistiwa perang kemerdekaan Aljazair ,Perang Vietnam. Marxism menjadi sebuah pendekatan teoritik yang cukup popular. Pada akhir tahun 1970an banyak ilmuwan justru menjadi bingung atas relevansi Anthropologi, sehingga menerbitkan jurnal Reinventing Anthropology
Michel Foucault
Pada tahun 1980an isu power / kekuasaan, seperti yang diuraikan di dalam karangan Eric Wolf berjudul Europe and the People Without History, menjadi pusat perhatain kajian Anthropologi. Buku-buku seperti Anthropology and the Colonial Encounter semakin mempertegas ikatan anthropology dengan masalah kesenjangan colonial, muncullkan ilmuwan seperti Antonio Gramsci dam Michel Foucault yang menggerakkan isu power dan hegemony ke dalam disiplin anthropologi. Gender dan sexuality menjadi topic yang popular, karena keterkaiatan antara disiplin ini dengan sejarah, khususnya dipengaruhi oleh Marshall Sahlins, yang menggunakan teori dari Lévi-Strauss dan Fernand Braudel untuk meneliti hubungan antara struktur sosial dan angen individual. Ilmuwan strukturalis lainnya yang berpengaruh antara lain Nietzsche, Heidegger, juga Derrida and Lacan. Dari Mazhab Frankfurt .
Di akhir tahun 1980an dan 1990an beberapa ilmuwan seperti George Marcus dan James Clifford lebih cenderung kembali kepada ethnografi, khususnya bagaimana dan mengapa ilmu anthropologi dipergunakan, dan mendominasi kajian. Kelompok ii cenderung ke arah Feminists sebagai bagian dari aliran 'post-modernisme’ Ethnographies berkembang menjadi lebih refleksif, secara eksplisit mengungkapkan methodology, kebudayaan, gender dan rasial. Selain itu anthropologi juga mulai mengkaji masalah globalisasi, pengobatan, bioteknologi, hak hak kaum pribumi, dan masalah masalah yang dihadapi oleh masyarakat industri maju.
D. Pendekatan di Dalam Anthropologi Approaches to Anthropology
The “four field” approach
Secara umum di AS, anthropology didefinisikan sebagai suatu kesatuan berdasarkan empat pendekatan mencakup :
A, Biological or physical anthropology, berusaha untuk memahami jasad/fisik manusia melalui evolusi, kemampuan adaptasi, genetika populasi, dan primatologi (studi tentang makhuk primate / binatang yang menyerupai manusia). Sub bidang dari Anthropologi fisik ini mencakup : anthropometrics, forensic anthropology, osteology, and nutritional anthropology.
B. Socio-cultural anthropology, adalah suatu investigasi yang memerlukan jangka waktu yang cukup panjang dan intensif (dengan observasi partisipan), atas budaya dan organisasi sosial dari suku bangsa tertentu khususnya tentang: bahasa, organisasi ekonomi dan politik, hukum dan resolusi konflik, pola konsumsi dan perdagangan kinship dan struktur keluarga, relasi gender, sosialisasi dan pemeliharaan anak, agama, mytologi, simbolisme, dsb. Universitas di AS cenderung mempergunakan istilah Anthropologi Budaya, sedangkan Universitas Inggris cenderung mempergunakan istilah Anthropologi sosial. Namun di abad 20, keduanya digabungkan menjadi anthropolgi sosial budaya. Sub bidang dari Anthropologi Budaya mencakup : Subfields and related fields include psychological anthropology, folklore, anthropology of religion, ethnic studies, cultural studies, anthropology of media and cyberspace, Social Anthropology, Politic Anthropology, study of the diffusion of social practices and cultural forms.
C. Linguistic anthropology, berusaha memahami proses komunikasi manusia baik verbal maupun non-verbal, keragaman bahasa dari masa ke masa, pemakaian sosial atas bahasa, dan korelasi antara bahasa dan budaya. Anthropolgi linguistik mengidentifikasikan berbagai sub elemen dari bahasa-bahasa yang ada di dunia ini dan mendokumentasikan struktur, fungsi dan sejarahnya. Sub bidang Anthropologi Lingustik mencakup sociolinguistics, cognitive linguistics, semiotics, discourse analysis, and narrative analysis.
D. Archaeology mempelajari berbagai penyebaran dari macam macam artifact (fosil, dan benda benda sejarah lainnya, dengan tujuan untuk memahami distribusi dan migrasi dari nenek moyng suatu bangsa, perkembangan ormas, dan korelasi kontemporer antar penduduk ; juga mengkontribusikan arti penting stud its genetika penduduk, sejarah bahasa dan berbagai penelahan sejarh lainnya. Archaeology mencakup beragam teknik lapangan (remote sensing, survey, geophysical studies, coring, excavation) dan beberapa prosedur laboratorium (compositional analyses, dating studies (radiocarbon, optically stimulated luminescence dating), pengukuran variability formal, pemeriksaan pola pakaian, analisa residu, dan sebagainya. Archaeolog tidak hanya mempelajari materi tentang manusia pra sejarah saja tetapi juga mempelajari ethografi dan sejarah manusia di jaman sejarah, atau di masa sudah mengenal peradaban. Archaeology di luar Amerika Serikat biasanya dipandang sebagai sub bidang ilmu yang terpisah dari Anthropologi, meskipun erat sekali kalitannya dengan kebudayaan, dimana keduanya sama-sama meneliti berbagai obyek fisik kebudayaan yang tercipta baik di masa sekarang maupun di masa lampau sebagai sebuah sarana pemahaman nilai-nilai budaya.
Sejumlah sub bidang terletak multi bidang (interface) dalam berbagi divisi di atas, sebagai contoh medical anthropology sering dipandang sebagai sub bidang anthropologi social budaya ; namun banyak anthropolog yang mempelajari topic kesehatan sering harus mengambil materi keragaman biologis disamping harus memperhatikan berbagai interaksi antara budaya dan biologi. Mereka juga menggunakan analisa linguistic untuk memahami komunikasi sekitar masalah kesehatan dan penyakit, juga memahami teknis archeologis untuk memahami sejrah kesehatan dan penyakit di dalam masyarakat jaman pra sejarah ataupun jaman sejarah.
Problem serupa juga muncul di dalam sub bidang forensic anthropologists, dimana bisa menggunakan teknik-teknik di dalam physical anthropology dan archaeology, dan juga konsep–konsep di dalam anthropologi budaya seperti medical anthropologists. Biocultural anthropology adalah sebuah sub bidang yang digunakan untuk mendeskripsikan sintesa antara perspektif cultural dan biologi. Applied anthropology mungkin lebih sesuai jika dipandang sebagai suatu penekanan daripada sebagai sub bidang; dimana para anthropolog terapan dapat bekerja di kantor – kantor pemerintah, LSM, ataupun perusahaan swasta, menggunakan berbagai teknik dari berbagai sub bidang anthropologi untuk menyelesaikan berbagai masalah seperti : implementasi kebijakan, dampak dari suatu akses, pendidikan, riset pemasaran, ataupun pengembangan produk.
Akhir-akhir ini banyak program anthropology programs di beberapa universitas ternama di AS telah mulai membagi anthropology menjadi dua bidang : satu bidanmg menekankan kepada humanities, critical theory, and interprepetative atau pendekatan semantic ; sementara bidang lainnya menekankan pada evolutionary theory, metode kuantitative, dan pengetestan secara eksplisit (melalui deskripsi idiographic), meskipun juga terdapat penekanan kelembagaan untuk menggabungkan keduanya menjadi satu departemen.. Di beberapa universitas program anthropologi biologi dan archaelogi juga telah pindah ke departemen biologi atau bidang lainnya yang terkait.
E. Keunikan Anthropology
Dibandingkan dengan ilmu –ilmu social lainnya, maka anthropology memiliki beberapa keunikan, yakni Skope : topical, temporer dan geografisnya jauh lebih luas. Selain itu anthropologi mengambil sebuah perspektif holistic atas manusia. Bandingkan dengan disiplin ilmu lainnya yang tergolong ke dalam induk ilmu –ilmu social :
• Sociology : mempelajari pola-pola kehidupan sosial
• Political Science : mempelajari kekuasaan (power) dan pemerintahan
• Economics : mempelajari produksi, distribusi dan konsumsi
• Psychology : mempelajari proses dan perkembangan jiwa serta perilaku
• Religious Studies : Mempelajari kepercayaan dan pelaksanaan berbagai hal yang bersifat supra natural.
Topical Scope
Sekarang kita melangkah kepada tiga Skope yang menjadi keunikannya yakni :
Topical Scope, dari topic yang dibahas di dalamnya , maka di dalam mendalaminya diperlukan Anthropological Skills mencakup :
• Social Perspective : mengevaluasi bagaimana perilaku berbagai individu dengan lebih menekankan pada posisi / status mereka di dalam system social budaya tertentu • Comparative Perspective: berusaha mencari perbandingan budaya dari tempat lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih valid atas evaluasi milik anda
• Participant Observation: Secara kritis ikut aktif berpartisipasi di area social yang sedang diteliti
• Cultural Relativism: memahami perilaku kelompok social lainnya sesuai dengan sudut pandang milik mereka bukan dari sudut pandang kita
• Social Agility: mempelajari bagaimana cepatnya perkembangan ruang lingkup aturan budaya ataupun norma di dalam masyarakat.


Geographical Scope, ditinjau dari skope geografisnya, anthropology mengambil sebuah perspektif global atas humanitas sehingga setiap wilayah di dunia ini menjadi obyek studinya, sementara ilmu social lainnya terkadang mengalami penyimpangan karena mempelajari suatu masyarakat yang terpencil dan asing, namun dari sudut pandang Barat. Scope
Dari Skope temporal ( jangkauan waktunya), anthropology memiliki kekhususan perspektif diakronis, yakni tidak hanya mempelajari pekembangan sejarah dari suatu species manusia tetapi juga mempelajari species manusia modern kaitannya dengan sejarah di masa lampau, misalnya Geertz meneliti komunitas politik di Pare, Kediri. Sementara ilmu –ilm social lainnya hanya membatasi diri pada manusia modern yang sudah beradab tanpa melacak asal muasalnya.

F. Manfaat Mempelajari Anthropology
A. Manfaat Umum, yakni manfaat yang kita peroleh dalam mempelajari Anthropology sebagai manusia umum yakni :
1. Lebih mengakui Kebesaran Allah Sang pencipta, karena kita mampu mendalami ciptaanNya yang paling sempurna
2. Menghindari ethnosentrisme yang sempit karena dengan mempelajari anthropologi kita mampu memahami berbagai perbedaan ras dam ethnic yang berbeda sehingga menghindari kesalahpahaman antar budaya yang berbeda
B. Manfaat Khusus, yakni manfaat yang kita peroleh sebagai mahasiswa Ilmu politik, dalam mempelajari Anthropology : yakni memperoleh metodologi penelitian yang sangat tepat, lengkap dan terperinci yakni metode deskriptif historis kualitatif dengan teknik participant dan studi lapangan. Meskipun hal ini dirasa cukup memakan waktu dan biaya, namun diakui sebagai metodologi yang paling tepat.










Seluk Beluk Jagad Antropologi
ALKISAH, ada seorang mahasiswa sejarah menulis skripsi tentang kemiskinan suatu masyarakat desa. Si mahasiswa itu berhasil membuat deskripsi mendalam tentang kemiskinan masyarakat yang ditelitinya itu. Di dalam skripsi itu, kemiskinan ditampilkan dalam bentuk pelukisan yang benar-benar hidup dan sarat nuansa. Membaca skripsi itu seakan-akan seperti ikut mengalami kemiskinan itu sendiri. Namun, bagaimana nasib skripsi tersebut di mata sang dosen pembimbing?
Skripsi itu ditolak mentah-mentah. Sebab, kata sang dosen pembimbing, itu bukan skripsi sejarah, tetapi skripsi antropologi, bahkan nyaris seperti novel alias karya sastra yang notabene "fiktif", kata sang dosen pembimbing. Karena itu, katanya, skripsi itu harus dirombak dan harus lebih menekankan proses historis munculnya kemiskinan.
Kisah lain. Seorang mahasiswa antropologi menulis skripsi tentang gerakan Ratu Adil. Berkat ketekunannya menggali arsip-arsip sejarah ia berhasil membeberkan proses perkembangan gerakan tersebut secara mendetail dan kaya nuansa. Tetapi, apa tanggapan dosen pembimbingnya?
Skripsi itu adalah skripsi sejarah, bukan skripsi antropologi, katanya. Karena itu harus dirombak, dan harus lebih ditekankan pada interpretasi atas makna simbol-simbol yang dipakai di dalam gerakan itu. Kedua mahasiswa tersebut tentu frustrasi. Ia merasa yang ia kerjakan tak dihargai sama sekali, hanya karena kurang menyinggung aspek historis gejala kemiskinan yang ia kaji, dan si mahasiswa lainnya kurang menekankan tafsir makna atas simbol-simbol gerakan.
Dua kisah seperti itu hingga saat ini-dekade 1990-an-masih mudah kita jumpai di kampus-kampus perguruan tinggi ilmu-ilmu sosial dan humaniora di Indonesia. (Prakata Lintas Batas Ilmu Sosial, LKiS, 1997). Memang, sampai saat ini perdebatan tentang batasan ilmu sosial terus mengemuka. Terutama menyangkut tentang fakta dan fiksi yang dijadikan sebagai sebuah referensi karya ilmiah.
Hairus Salim, dalam kata pengantar buku ini menolak anggapan, bahwa "ilmu-ilmu sosial" yang pengerjaannya dilakukan berdasar standar dan prosedur yang dianggap ilmiah, disebut telah menyajikan fakta. Sementara di sisi lain, karya-karya sastra, seperti novel, puisi, dan esai disebut fiksi. Pada gilirannya, data di dalam karya-karya ilmu sosial lebih bisa diterima dan dijadikan rujukan ilmiah sementara karya sastra tidak.
KLAIM fakta yang selama ini menjadi sandaran ilmiah karya ilmu-ilmu sosial telah melumer dan mencair. Watak imajinatif memang tak terelakkan dari karya-karya ilmu sosial: bagaimana tema dipilih, format dibangun, dan tulisan dibangun, dan tulisan disusun semuanya melibatkan penafsiran, semuanya fiksi, seluruhnya konstruksi.
Asumsi bahwa antropologi adalah kegiatan menghimpun fakta yang aneh dan luar biasa, lalu memilahkannya dengan rapi ke dalam kategori-kategori yang sudah biasa telah tak berlaku lagi. Lalu semakin buyar antropologi itu apa? Mungkin semacam kerja penulisan, kepengarangan, atau menyatakan hal-ihwal di atas kertas. Ide demikian terkadang terlintas dalam benak para antropolog dan peminat antropologi. Meski begitu, meneropong antropologi sebagai kerja tulis-menulis selalu dijegal beberapa pertimbangan dan keberatan yang semuanya kurang beralasan. Salah satu keberatan itu, yang terutama berpengaruh pada antropolog, hanya didasarkan pada pertimbangan bahwa kegiatan tulis-menulis bukanlah kerja yang antropologis. Melainkan pergi ke berbagai tempat, pulang membawa oleh-oleh berupa informasi tentang cara hidup orang di sana, lalu menyediakan informasi itu dalam bentuk praktis bagi komunitas profesional.
Bukan hanya duduk di perpustakaan menganalisa pertanyaan literer. Keberatan lain, yang biasanya diajukan oleh peminat antropologi adalah bahwa teks antropologi tak layak diperhatikan secara rinci dan mendalam. Sastrawan seperti Conrad, Flaubert atau bahkan Balzac memang melakukan efek melalui cara tertentu yang patut dikaji.
Clifford Geertz dalam buku ini mengurai secara kritis atas kedudukan ilmiah dan kedudukan literer ilmu antropologi. Ia menelaah karya dari empat empu antropologi yang karya-karyanya menjadi klasik: Levi-Strauss, Evans-Prichard, Malinowski, dan Ruth Benedict. Gugatan Geertz ini menggema bukan hanya di gelanggang antropologi, tetapi ke seluruh bidang ilmu sosial.
Buku ini terbagi menjadi enam bab. Keempat bab pertama pernah disampaikan dalam bentuk yang agak berbeda, sebagai ceramah Harry Camp dalam memorial lectures di Stanford University, Musim Semi tahun 1983.
Untuk sebuah kejelasan kajian ini, Geertz memberi catatan pendahuluan. Pertama, istilah "antropologi" di sini terutama digunakan sebagai ekuivalen "etnografi" atau tulisan yang didasarkan atas "etnografi". Penggunaan ini meskipun sudah lazim dan baku, tetapi tidak eksak.
Geertz menyadari eksistensi arkeologi linguistik perbandingan, antropologi ragawi, dan berbagai bentuk kajian lain yang tidak atau tidak serta merta didasarkan atas etnografi. Dan itu semua mempunyai klaim yang sama valid untuk dimasukkan ke dalam rubrik "antropologi" sebagaimana "etnografi" serta memunculkan isu-isu wacana khusus yang tersendiri.
Geertz menggunakan istilah ini untuk mengacu pada antropologi sosial yang berorientasi etnografis, semata-mata untuk kemudahan pemaparan. Penggunaan demikian tidak untuk menyiratkan bahwa jenis karya yang dibicarakan sudah tuntas meliput apa yang diacu oleh istilah tersebut, atau bahwa karya semacam ini lebih layak dibahas di bandingkan dengan jenis-jenis lain.
Kedua, meskipun hal-hal yang bersifat biografis maupun historis tak bisa dielakkan masuk dalam bahasan ini pada banyak tempat, kajian ini sendiri tidak beritikad menjadi biografis atau historis, tetapi berkepentingan dengan "bagaimana antropolog menulis"-intinya, kajian ini berorientasi tekstual.
Karena itu, buku ini sangat penting bagi pembaca yang ingin mengetahui hayat dan karya para Antropolog dalam melakukan kerja kreatif kepenulisan dan kepengarangannya yang unik, kadang juga mendebarkan.
Diambil dari Kompas
Oleh : Arief Fauzi Marzuki Praktisi buku, tinggal di Yogyakarta